Keuntungan Menjalin Hubungan Sama Anak Pertama Di Keluarganya

Mungkin si sulung nggak akan selalu
membuatmu tersenyum, tapi percayalah kalau mereka cuma ingin kamu bahagia.”

image

Menurut lo pacaran sama anak sulung atau anak pertama dalam keluarganya gimana rasanya sih? Tentu ada beberapa perbedaan mencolok ketika lo pacaran sama anak sulung, anak tengah, maupun anak bungsu. Kali ini gue mengutip Indonesian Times pengen membahas 10 keuntungan yang lo dapatkan ketika lo menjalin hubungan dengan anak sulung.

Apa aja sih kira-kira? Yuk gaes cek bareng-bareng>>

1. Mandiri.

Anak sulung mayoritas lebih mandiri
dibandingkan anak tengah maupun anak bungsu karena saat adik-adiknya lahir, perhatian orang tua ke anak sulung akan berkurang. Hal ini tentunya akan mendorong dia menjadi sosok yang mandiri.

Keuntungannya, si anak sulung nggak akan menjadi sosok yang clingy atau bergantung pada kekasihnya terus menerus. Ia bisa tahu, kapan waktu yang tepat untuk mengandalkan kekasihnya, kapan ia bisa mengurus semua urusannya sendiri. Kalau anak tengah, kadang dirinya masih bergantung pada sosok kakaknya. Apalagi anak bungsu yang kecenderungannya suka bergantung pada kakak-kakaknya.

2. Pintar mengatur Banyak Hal.

Sebagai anak sulung, biasanya ia diberi mandat oleh orang tuanya untuk mengatur pekerjaan rumah, termasuk adik-adiknya. Nggak heran kalau dia sudah terbiasa mengatur semua kegiatan hariannya. Untungnya buat kamu? Nanti kalau kalian berumah tangga, kamu nggak perlu kaget karena dia sudah terbiasa mengatur kesehariannya.

Mereka sudah terbiasa membagi
waktunya untuk ibadah, pekerjaan, keluarga dan sosialnya. Dibandingkan sama anak tengah dan bungsu, si sulung lebih terbiasa mengatur hidupnya sendiri, saat perhatian orang tuanya tercurah untuk adik-adiknya.

3. Biasa Mengalah.

Salah satu kalimat yang paling sering didengar anak sulung adalah “Kalau jadi kakak harus ngalah lho sama adik.” Si sulung terbiasa membagi makanannya, berbagi mainannya, berbagi hal-hal yang ia sukai juga.

Jadi nggak usah khawatir karena si sulung nantinya punya hati yang besar buat mengalah ketika dia menjalani sebuah hubungan. Kebiasaan sih soalnya! Kalau anak tengah, mungkin dia masih bisa mengalah ketika memang hal yang ia inginkan tidak begitu penting, tapi anak bungsu?
Malah biasanya si sulung selalu mengalah buat si bungsu, kok.

4. Ringan Tangan (Untuk Membantu).

Ringan tangan di sini maksudnya bukan main pukul, tapi maksudnya dia tidak segan untuk membantu adik-adiknya. Si sulung sudah terbiasa diserahi tanggung jawab atas adik-adiknya, jadi ia akan turun tangan ketika memang si adik terjerat masalah. Secara tidak sadar, hal itu akan terbawa ketika ia menjalani hubungan dengan manusia Lainnya, tidak terkecuali ketika ia menjalin cinta denganmu. Anak tengah dan anak bungsu? Lho, kan mereka yang dibantu sama si anak sulung?

5. Bercita-cita Tinggi

.
Sebagai anak sulung, orang tua tentu menaruh harapan yang besar padanya, walau anak-anak lain juga diharapkan oleh orang tuanya. Sehingga hal ini jadi mempengaruhi cita-cita dan tujuan hidupnya. Si anak sulung berusaha dengan keras untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya. Walau setiap orang pun bisa bercita-cita tinggi,namun biasanya anak sulung memiliki semangat juang lebih tinggi. Anak tengah dan anak bungsu biasanya lebih stay di zona nyaman mereka. Walau sama-sama mengejar cita-cita, tapi anak sulung bakalan lebih berusaha lebih keras, percayalah.

6. Suka Semuanya Terkendali.

Si sulung suka semuanya terorganisir dan berjalan sesuai rencana. Meski ada plus minusnya, namun bila dilihat sisi positifnya, maka kamu nggak perlu khawatir karena si sulung pasti akan berjalan sesuai ‘manual book’ yang mungkin bisa disepakati di awal kalian memulai suatu hubungan. Berbeda dengan anak tengah dan bungsu yang lebih suka segalanya berjalan mengalir dan spontan.

7. Murah hati.

Sebagai anak sulung yang pastinya akan duluan masuk ke sebuah dunia, dia pasti akan jadi ‘kepala’ untuk adik-adiknya. Tentunya si sulung jadi anak yang murah hati dan suka berbagi. Misalnya nih, setelah si sulung lulus kuliah dan adiknya duduk di bangku kuliah, ia pasti akan berbagi nasihat-nasihat seputar dunia kuliah.Saat si sulung sudah berpenghasilan, ia yang mengingat keluarga pasti akan membelikan sesuatu untuk keluarganya. Kebiasaannya di
keluarga akan terbawa hingga ketika ia memulai keluarga yang baru dengan lo (kelak). Bukan anak tengah dan bungsu tidak murah hati, tapi mereka kan biasanya jadi penerima kemurahan hati si sulung. Hehehe.

8. Penuh Kasih Sayang.

Menjadi yang tertua, biasanya dia sudah dihujani dengan kasih sayang orang tua karena anak pertama adalah hadiah pertama yang diberikan oleh Tuhan untuk orang tua Akibatnya, si sulung pun memiliki stok kasih sayang yang berlebih. Lagi-lagi, walau ada sisi positif dan negatifnya, namun sisi positifnya adalah si sulung ini tahu
bagaimana menghujani orang lain dengan kasih sayang juga. Anak tengah dan anak bungsu biasanya lebih mengharapkan kasih sayang dibandingkan harus memberi kasih sayang untuk orang lain.

9. Memiliki Tanggung Jawab yang Tinggi.

Sebagai anak pertama dan paling tua, orang tua sering melimpahkan tanggung jawab yang besar untuk si sulung. Tidak heran bila si sulung menjadi orang yang bertanggung jawab. Nah yang begini nih enak, lo nggak perlu khawatir karena pasangan lo adalah sosok yang bertanggung jawab. Yang cowok jelas nggak akan kabur membawa putri orang lain dan si cewek nggak akan kabur merebut harta si cowok (itu lho, ala sinetron Indonesia). Anak tengah dan anak sulung bukannya nggak bertanggung jawab, tapi kadar tanggung jawab si sulung lebih tinggi daripada adik-adiknya.

10. Sebisa Mungkin Menyenangkan Orang Tua.

Gue pribadi percaya bahwa semua anak di dunia ini akan berusaha membahagiakan orang tuanya. Namun ada suatu keinginan yang lebih kuat dari si sulung untuk menyenangkan hati orang tuanya. Alhasil, ia jadi susah untuk berkata “tidak”, apalagi pada orang tuanya. Berbeda dengan anak tengah dan sulung yang lebih memilih untuk mengikuti apa kata hatinya, passion dan impiannya.

Itulah 10 keuntungan bila kamu berpacaran sama anak sulung. Menurut kamu, keuntungan apa lagi ya yang didapatkan orang-orang bila
mereka menjalin cinta dengan anak sulung?

Iklan

Otak Manusia Baru Di Pakai 10 Persen, Bagaimana Kalau Sudah Di Pakai 100 Persen?

Gue mungkin bingung dan bertanya-tanya sama otak gue, apa bener otak gue cuma di pakai 10% dari 100%?

Berawal dari gue mendownload film di Ganool.com, dan menonton Film LIMITLESS, dan gue terperangah membayangkan andai saja gue bisa ngembangin otak gue sama seperti di film.
Dan gue kembali tertarik setelah kembali lagi download Film LUCY di ganool.com..

Mungkin setelah lo semua nonton film LUCY, udah nonton film Lucy belum? Film yang yang rilis Juli 2014 lalu dibintangi Morgan Freeman dan Scarlett Johansson, dan Film LIMITLESS film tahun 2011 yang di bintangi oleh, Robert De Niro dan Bradley Cooper.

Inti dari Film ini mengangkat Tema bahwa otak manusia itu hanya di pakai 10% dari 100%, plot film sama-sama memakai obat terlarang  untuk meningkatkan kapasitas otak dari 10% sampai 100%.

Mungkin ada yang belum nonton film tersebut, untuk lebih tepatnya belum nonton, akan penasaran dengan ceritanya.
Dan gue di sini ga jelas in terntang refrensi Film tersebut. Kalau ingin tau film LIMITLESS dan LUCY silahkan cari di kakek Google. :-p

Setelah gue kemaren-kemaren nonton LUCY gue kembali kepada pertanyaan di atas, apa benar otak gue cuma di pake 10%?
Rasa ingin tau gue muncul dan jadilah googling mencari kebenaran, dan maklum hal yang berbau sains gue ga bagitu ngerti, dan gue cuma mau tau akan FAKTA tersebut.

Akhirnya setelah surfing kesana kemari gue nemu postingan yang menurut gue bagus, dan menambah pemahaman tentang Kebenaran Otak Kita.

Kembali kepada Film LUCY menceritakan Scarlett berubah jadi super pinter, bisa belajar satu hal dengan super cepat, tau super banyak hal, super jago bela diri, sampe punya super power, kayak kemampuan telekinesis, menghentikan waktu, dsb.

Secara film, menurut gw pribadi nih, it’s just another action-science fiction movie. Lumayanlah buat entertainment ngisi waktu luang. Apalagi kalo lo suka mantengin si seksi Scarlett beraksi di film action 😀

Tapi, nih film bikin gw geregetan dan facepalm. Apalagi kalo lo ngefans sama Morgan Freeman plus tau sains juga. Lah emangnya kenapa?

Keseluruhan plot film ini berdasarkan pada premis bahwa kita baru make 10% dari total kapasitas otak kita. Dugaan gua sih cukup banyak dari yang baca tulisan ini juga masih percaya dengan premis ini. Beberapa diantara lo juga mungkin ada yang baru aja nonton Lucy, kemudian terbuai untuk berangan-angan kemampuan apa aja yang bisa lo dapetin kalo lo bisa make lebih dari 10% otak lo.

Lo tau ga sih kalo premis “rata-rata manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya” itu adalah salah satu miskonsepsi terbesar dalam Biologi, khususnya tentang otak. (FAKTA)

Sangat keliru, tapi sangat populer. Entah kenapa otak sering banget jadi kambing hitam yang dikelilingi dengan banyak mitos, pseudoscience, dan miskonsepsi. Btw lo juga bisa Googling  pembedahan zenius sebelumnya yang berkaitan tentang otak di artikel yang membahas tentang miskonsepsi otak kanan-kiri dan otak tengah . Tapi gimana ceritanya kalo “manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya”?

Selama bertahun-tahun, banyak dokter, neuroscientists, dan jurnalis sains udah mencoba menerangkan dengan sabar ke siapapun yang mau mendengarkan bahwa ga ada satu pun basis saintifik untuk mitos otak 10% ini. Tapi mitos ini tetap aja hidup dan populer. Kok bisa sesuatu yang keliru banget bisa tetap populer begitu? Ayok lah kita bahas aja.

 

ASAL MULA MITOS TENTANG OTAK 10%

Semua ini bermula dari misintepretasi temuan sains yang masih kurang lengkap seratus tahun lalu.

Pada awal abad ke-20, peneliti medis yang mempelajari otak binatang dan penderita stroke menemukan bahwa bagian otak yang berbeda mengontrol aktivitas yang berbeda pula. Misalnya bagian otak A ternyata berfungsi pada bagian tubuh tertentu, misalnya bibir, bagian otak B ternyata berfungsi pada bagian tubuh lain, misalnya jari kelingking tangan kiri, dsb. Metodenya adalah dengan mencoba memberikan kejutan listrik ke area otak tertentu untuk memetakan fungsi dari tiap bagian otak. Jadi mereka mau ngeliat nih, kalo gw sentrum yang sebelah sini, kira-kira ngaruh ke fungsi atau bagian tubuh yang mana ya. Oh misalnya, kalo gw kasih kejutan listrik ke saraf okulomotor di otak, kelopak mata gw bergerak.

Nah, dengan metode seperti itu, para saintis mencoba memetakan fungsi otak yang disetrum dengan efek rangsangan pada gerakan motorik (gerak) manusia. Hasilnya? ternyata hanya 10% bagian otak doang yang memberi respond ketika distimulasi dengan aliran listrik. Sedangkan 90% bagian otak yang lain, ga ada satu pun otot di tubuh yang bergerak atau berkedut sedikitSaintis pada saat itu melabeli 90% area tersebut sebagai silent cortex karena fungsinya BELUM diketahui.Inget, “belum diketahui” bukan berarti “tidak berfungsi sama sekali” yaah…

Sayangnya, orang-orang dari ranah non-sains pada saat itu mengira 90% area tersebut benar-benar dorman (ga aktif) permanen. Di sinilah miskonsepsi 10% otak itu dimulai. Mulai deh tuh premis ini bermunculan di buku-buku self help,motivasi, film (salah satunya film Lucy itu), sampe bermunculan juga program-program peningkat daya guna otak. Salah satu yang terkenal dan diduga menjadi buku pertama yang menggunakan premis ini adalah buku “How to Win Friends and Influence People” yang ditulis oleh Dale Carnegie pada tahun 1936. Buku ini jadi salah satu buku self-development yang best selling pula. Tapi yah emang bisa dimaklumi sih karena buku ini ditulis pada saat sains belum berkembang seperti ini, dan isi dari buku tersebut juga gak sepenuhnya membahas tentang konteks ini.

Selain itu, bahkan ada juga yang mengaitkan premis otak 10% ini dengan Albert Einstein., bahwa sebetulnya Einstein yang sejenius itu aja ternyata cuma menggunakan 10% dari otaknya. Ada juga yang bilang bahwa Einstein sendiri yang mengatakan hal itu. Entahlah gua juga ga tau juga kenapa ada klaim ngaco seperti itu. Mungkin karena Albert Einstein sering dipake sebagai simbol orang jenius, jadi sering dimanfaatkan juga nama besarnya. Akhirnya sih di tahun 2004, pencarian komprehensif terhadap arsip Einstein di Institut Teknologi California tidak menemukan bukti sama sekali kalo Einstein pernah melontarkan premis serupa.

 

SAINS TERKINI MENJAWAB MISKONSEPSI OTAK 10%

Ingat kah kalian pelajaran Biologi kelas 7 SMP atau kelas 10 SMA tentang Metode Ilmiah? Di sini kita belajar kalo sains terus berkembang dan harus selalu terbuka untuk difalsifikasi (dipatahkan) jika ada bukti dan data-data terbaru yang ditemukan atau dengan pemahaman baru yang lebih komprehensif. Jadi sains harusnya memiliki sifat auto-critic atau harus selalu bisa mengevaluasi kembali pemahamannya.

Nah, hal yang sama juga harusnya berlaku untuk setiap fenomena yang diklaim oleh saintis, termasuk penelitian tentang otak 100 tahun yang lalu. Peneliti otak jaman sekarang udah punya peralatan yang lebih canggih sehingga bisa mengambil kesimpulan yang jauh lebih tepat tentang pemetaan fungsi otak terhadap akvitias tubuh manusia. Untuk mengamati fungsi otak, kita udah punya fMRI, CT Scan, dan PET Scan, EEG, dsb yang hasilnya bisa diolah secara kuantitatif maupun grafis dengan sangat presisi di komputer. Pastinya beda banget sama jaman 100 tahun yang lalu, peralatan saintis kala itu cuma berupa jepit elektroda yang cuma bisa kasih kejutan listrik doang.

Dengan alat canggih yang kita punya sekarang, kita bisa mengobservasi aktivitas virtual otak (ga cuma aktivitas fisiknya aja), misalnya gelombang otak atau hormon-hormon yang bereaksi di otak. Keempat alat di atas bisa ngebantu para peneliti dan pekerja medis untuk mengetahui secara jauuuh lebih akurat bagian otak mana yang mengontrol kegiatan tertentu. Nah, dengan alat-alat canggih ini juga ditemukan bahwa ga ada tuh bagian otak yang dorman. 90% silent cortex itu juga punya fungsi, yaitu pusat kontrol kognitif manusia, seperti kemampuan berpikir dan menggunakan bahasa.

Ya pantas aja kalo 90% diberi sengatan listrik ga bikin satu pun otot di tubuh kita berkedut, toh fungsinya bukan buat motorik (gerak), tapi lebih ke fungsi yang tidak bisa diobservasi dengan kasat mata, seperti fungsi untuk bisa berpikir secara logis, untuk memahami bahasa verbal, atau untuk menangkap emosi orang lain. Yang begituan ya mana mungkin ke-detect sama alat eksperimen jaman dulu, yang cuma bisa melihat hasil stimulasi yang bersifat motorik (gerak) doang.

Memang benar kalo bagian otak yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda pula, dan ga semuanya bekerja dalam waktu yang bersamaan. Namun, hasil scan otak selama periode 24 jam, menunjukkan bahwa seluruh bagian otak kita pasti kepake dan terus aktif dalam satu hari. Pas lo lagi bengong dan nothing to do juga, otak lo masih bekerja. Bahkan saat lo tidur, bagian seperti frontal cortex, yang mengontrol kemampuan berpikir, self-awareness, dan somatosensorymasih aktif. Makanya kalo lo tidur, lo bisa kebangun kalo dipanggil Mama buat disuruh beli belanjaan di Minimarket :p

Lagipula, kalo benar manusia selama ini bisa fine-fine aja dengan menggunakan 10% otaknya, berarti 90% nya dorman sia-sia gitu? Menggunakan perspektif evolusi, ini ga efisien banget. Otak itu konsumtif banget dalam penggunaan energi tubuh. Walaupun berat otak cuma 5% dibandingkan total berat tubuh kita, organ ini mengkonsumsi hingga 20% suplai oksigen dan glukosa dalam tubuh. Ngapain kita mempertahankan 90% bagian otak lain selama ribuan tahun evolusi kalo emang tanpa itu kita masih bisa beraktivitas dengan baik? Kenapa ga “dihilangin” aja?

Kenyataannya, kalo manusia cuma menggunakan 10% otaknya, kita akan rentan banget dengan kelainan otak. Ga ada satu pun area di otak yang kalo di-nonaktif-kan ga akan menimbulkan efek yang fatal. 90% dari otak ga aktif itu udah sama kali kayak orang koma. Kenyataan lo lagi baca tulisan gw sekarang adalah bukti kalo otak lo masih bisa bekerja 100% kok. Kalo ada 1% aja otak lo ada yang gak berfungsi, mungkin lo udah lumpuh atau sekarat, hehe..

 

KENAPA MITOS OTAK 10% MASIH POPULER SAMPAI SEKARANG?

Meskipun kini pengetahuan sains makin advanced, udah ada data-data dan pemaparan logika yang mematahkan mitos ini, tapi kenapa ya kok mitos ini masih populer aja?

Premis “manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya” seakan-akan memberikan pengharapan bahwa kita bisa lebih dari kita sekarang ini. Harapan kalo ada suatu jalan untuk mengembangkan potensi kita lebih jauh dari yang sekarang.

People love fairy tale. Lo mungkin masih sering tergoda untuk berangan-angan, “Mungkin ga ya laba-laba di film Spiderman itu nyata?”, “Beneran ga sih kalo gw kena sinar radioaktif, gw bisa jadi mutan kayak di X-Men?”, atau “Seandainya gw bisa maksimalin otak gw 100%, gw bisa masuk Harvard kali ya

Premis “manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya” memberi kita harapan kalo there’s so much more to unlock. Coba lo bayangkan kalo ada motivator atausales program otak yang menawarkan ke lo, “Dengan mengikuti training aktivasi otak 90% kami, hanya dengan biaya 3 juta rupiah, dalam waktu 2 bulan, kamu akan dapat nilai rapor 100 semua, lulus SBMPTN, menguasai 5 bahasa, dan sebagainya dan sebagainya..

Kesannya mungkin konyol buat lo yang udah tau tentang miskonsepsi ini. Tapi bagi yang belum tau atau males nyari tau, ya bisa jadi itu tawaran yang sangat menggoda. Entah kenapa, banyak orang yang selalu tergoda untuk mendongkrak kemampuan kita dengan jalan pintas, apalagi kalau udah dibumbui bau sains, wah makin yakin aja tuh. Padahal yang bersangkutan sebetulnya belum bisa ngebedain yang sains beneran sama yang cuma pseudosains. (pseudosains: sok-sok pake istilah sains padahal ngaco secara sains)

Hal yang membuat miris adalah, banyak pseudosains dijual untuk mendatangkan profit. Sebetulnya hal ini gak perlu dikhawatirkan kalo aja masyarakat mau terus belajar, berpikir kritis, dan selalu mengkaji pengetahuan yang mereka dapetin. Tapi yah kemalasan masyarakat inilah mungkin yang membuat kenapa mitos ini tetap hidup dan populer. Bahkan terus direpetisi hingga menjadi bagian dari urban legend masyarakat kita. Jadinya ketika satu premis bisa mendatangkan duit, ya orang males lah menerima temuan baru atau mengubahbelief-nya kalo malah menutup sumber duit mereka :p

Tapi tentu ada cara kan buat mengembangkan potensi kita? Ya tentu ada lah. Tapi mau potensi lo seperti sekarang vs. potensi lo nanti yang udah lebih berkembang , sama aja lo tetap menggunakan otak lo secara 100%. Potensi yang dimiliki Bill Gates dan potensi yang dimiliki gw sama-sama berdasar dari penggunaan otak secara 100%.

Trus gimana cara mengembangkan potensi kita? Ya kembali lagi seperti yang udah sering Zenius koar-koarin. Potensi dan achievement itu adalah resultan dari kerja keras dan semangat lo dalam meraih impian lo. Ga ada yang namanya shortcut. Mau lulus SBMPTN? Ya belajar kontinu dan efektif. Mau jago menggambar atau bela diri? Ya terus latihan dan evaluasi.

Mungkin ada sebagaian orang menganggap ini pembahasan basi, tapi gue cuma mau ngasih wawasan tambahan, karena dari rasa penasaran gue, dan gda salahnya kan buat gue sebarkan pengetahuan ini..

Jadi sekarang kalo ntar masih ada teman lo yang masih percaya dengan mitos otak 10% ini, lo bisa jelasin kalo itu cuma miskonsepsi. Fakta bahwa mitos ini masih populer justru bukti bahwa manusia sepertinya baru mengerti 10% tentang otak kita.

Stay Awesome, Stay Critical!

REFERENSI
http://science.howstuffworks.com/life/inside-the-mind/human-brain/ten-percent-of-brain.htm
http://psychology.about.com/od/biopsychology/a/10-percent-of-brain-myth.htm
https://www.zenius.net/blog/4984/otak-10-persen-manusia-mitos-miskonsepsi-debunk
http://en.wikipedia.org/wiki/Ten_percent_of_brain_myth#cite_note-5
http://www.princetonbrainandspine.com/subject.php?pn=brain-anatomy-066

Penyakit Ini Membuat Orang Menjadi Pintar ?

Penasarankan??
Penyakit seperti apa yang buat orang menjadi pintar

Biasanya penyakit itu merugikan atau mengancam kesehatan seseorang. Tapi ada suatu penyakit yang justru membuat orang menjadi pintar dan jenius. Penyakit apakah itu ?
Aneh kedengarannya, tapi itu kenyataan yang benar-benar terjadi pada beberapa kasus.

Pada saat tubuh bertumbuh dan berkembang, pikiran belajar untuk mengenal dan menyaring berbagai macam objek dan informasi, proses ini normal disebut dengan Latent Inhibition (LI).

Tapi dalam beberapa kasus, manusia mempunyai kepekaan berlebih terhadap berbagai kondisi lingkungan, seperti bunyi-bunyian, nomor seri telepon genggam di meja anda, atau merek dan tanggal produksi lampu di kamar anda. Proses ini disebut dengan Low Latent Inhibition (LLI). Penyakit ini sangat bertolak belakang dengan Autis, yang mana Autis menyebabkan seseorang tidak bisa fokus, tidak bisa berkonsentrasi terhadap apa yang diterima dan didengarnya. Sedangkan Low Laten Inhibition, sebaliknya menampung semua informasi yang diterima.

Secara normal otak akan menyaring aliran konstan rangsangan yang masuk, sesuai dengan kemampuan otak, namun pada orang yang mengidap LLI, seluruh informasi yang diterima akan masuk seluruhnya ke dalam otak, sehingga bagi orang yang tingkat IQ nya tidak cukup, mungkin akan mengalami kegilaan dan keterbelakangan mental, karena mereka tidak bisa mengembangkan ide-ide kreatifnya, dan akhirnya menjadi frustasi dan depresi/ stress, hal ini lah yang dapat menimbulkan kegilaan atau keterbelakangan mental. Tapi dari beberapa kasus, orang yang memiliki IQ yang cukup, hal ini justru akan membuat dirinya menjadi seorang jenius. Mungkin Albert Einstein mengidap penyakit ini ya ? he he

Ciri-ciri Orang Yang Mengidap Low Latent Inhibition atau LLI:

1.Sangat peka terhadap informasi:

Melihat, mendengar dan mencium bau lebih banyak dari orang lain, dan merasa lebih melalui kontak sentuhan.

Tanpa disadari pikiran memiliki sebuah asupan informasi yang lebih luas. Setelah menghadapi segala bentuk rangsangan, pikiran secara otomatis mengeksplorasi komponen-komponennya. Jadi dapat mendapatkan informasi tentang sesuatu yang terlewatkan oleh orang normal.

2.Dapat mengetahui kebohongan seseorang:

Biasanya mampu melihat kebohongan dan penipuan yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari.

3.Mampu belajar dengan cepat:

Ketika belajar, dapat membuat perubahan seketika. Dapat mempraktekkan pelajaran yang baru saja diserap, dan mampu membuat koneksi atau asosiasi antara 2 hal atau lebih yang biasanya pada orang normal, tampak seperti tidak berhubungan sama sekali. Mudah memahami penjelasan. Melihat informasi latar belakang non-verbal dan ini sering memberikan gambaran yang lebih komprehensif daripada apa yang diucapkan.

4.Tidak ada suara yang berbicara dalam kepala:
Berpikir secara jernih dengan pikiran sadar. Informasi tenggelam sepenuhnya dalam pikiran sadar tanpa pengaruh pikiran bawah sadar.

5.Sulit untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran:
Karena pikiran sangat teliti dan mendetail tentang hal-hal yang dianggap sepele oleh orang lain, maka akan sulit untuk menjelaskannya secara verbal kepada orang lain.

6.Orang lain terlihat bodoh dan membosankan dengan penjelasannya:

Akan merasa kesal dan tidak sabar bila mendengarkan penjelasan orang normal karena dalam pikiran, orang tersebut menjelaskan tentang sesuatu yang dianggap seharusnya sudah dijelaskan beberapa jam sebelumnya. Jadi ibarat, seseorang berbicara masih sampai di poin A, sedangkan pikiran si pengidap LLI sudah mencapai poin Z.

7.Ilmu pengetahuan adalah sumber ketenangan:

Dapat menemukan ketenangan dan ketenteraman dalam mempelajari berbagai hal yang berbau sains.

Tapi penyakit ini dapat merusak otak seseorang dan mengakibatkan keterbelakangan mental, apabila orang tersebut tidak memiliki IQ yang cukup, untuk memproses segala informasi yang dia dapatkan dari lingkungan sekitarnya.