Keuntungan Menjalin Hubungan Sama Anak Pertama Di Keluarganya

Mungkin si sulung nggak akan selalu
membuatmu tersenyum, tapi percayalah kalau mereka cuma ingin kamu bahagia.”

image

Menurut lo pacaran sama anak sulung atau anak pertama dalam keluarganya gimana rasanya sih? Tentu ada beberapa perbedaan mencolok ketika lo pacaran sama anak sulung, anak tengah, maupun anak bungsu. Kali ini gue mengutip Indonesian Times pengen membahas 10 keuntungan yang lo dapatkan ketika lo menjalin hubungan dengan anak sulung.

Apa aja sih kira-kira? Yuk gaes cek bareng-bareng>>

1. Mandiri.

Anak sulung mayoritas lebih mandiri
dibandingkan anak tengah maupun anak bungsu karena saat adik-adiknya lahir, perhatian orang tua ke anak sulung akan berkurang. Hal ini tentunya akan mendorong dia menjadi sosok yang mandiri.

Keuntungannya, si anak sulung nggak akan menjadi sosok yang clingy atau bergantung pada kekasihnya terus menerus. Ia bisa tahu, kapan waktu yang tepat untuk mengandalkan kekasihnya, kapan ia bisa mengurus semua urusannya sendiri. Kalau anak tengah, kadang dirinya masih bergantung pada sosok kakaknya. Apalagi anak bungsu yang kecenderungannya suka bergantung pada kakak-kakaknya.

2. Pintar mengatur Banyak Hal.

Sebagai anak sulung, biasanya ia diberi mandat oleh orang tuanya untuk mengatur pekerjaan rumah, termasuk adik-adiknya. Nggak heran kalau dia sudah terbiasa mengatur semua kegiatan hariannya. Untungnya buat kamu? Nanti kalau kalian berumah tangga, kamu nggak perlu kaget karena dia sudah terbiasa mengatur kesehariannya.

Mereka sudah terbiasa membagi
waktunya untuk ibadah, pekerjaan, keluarga dan sosialnya. Dibandingkan sama anak tengah dan bungsu, si sulung lebih terbiasa mengatur hidupnya sendiri, saat perhatian orang tuanya tercurah untuk adik-adiknya.

3. Biasa Mengalah.

Salah satu kalimat yang paling sering didengar anak sulung adalah “Kalau jadi kakak harus ngalah lho sama adik.” Si sulung terbiasa membagi makanannya, berbagi mainannya, berbagi hal-hal yang ia sukai juga.

Jadi nggak usah khawatir karena si sulung nantinya punya hati yang besar buat mengalah ketika dia menjalani sebuah hubungan. Kebiasaan sih soalnya! Kalau anak tengah, mungkin dia masih bisa mengalah ketika memang hal yang ia inginkan tidak begitu penting, tapi anak bungsu?
Malah biasanya si sulung selalu mengalah buat si bungsu, kok.

4. Ringan Tangan (Untuk Membantu).

Ringan tangan di sini maksudnya bukan main pukul, tapi maksudnya dia tidak segan untuk membantu adik-adiknya. Si sulung sudah terbiasa diserahi tanggung jawab atas adik-adiknya, jadi ia akan turun tangan ketika memang si adik terjerat masalah. Secara tidak sadar, hal itu akan terbawa ketika ia menjalani hubungan dengan manusia Lainnya, tidak terkecuali ketika ia menjalin cinta denganmu. Anak tengah dan anak bungsu? Lho, kan mereka yang dibantu sama si anak sulung?

5. Bercita-cita Tinggi

.
Sebagai anak sulung, orang tua tentu menaruh harapan yang besar padanya, walau anak-anak lain juga diharapkan oleh orang tuanya. Sehingga hal ini jadi mempengaruhi cita-cita dan tujuan hidupnya. Si anak sulung berusaha dengan keras untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya. Walau setiap orang pun bisa bercita-cita tinggi,namun biasanya anak sulung memiliki semangat juang lebih tinggi. Anak tengah dan anak bungsu biasanya lebih stay di zona nyaman mereka. Walau sama-sama mengejar cita-cita, tapi anak sulung bakalan lebih berusaha lebih keras, percayalah.

6. Suka Semuanya Terkendali.

Si sulung suka semuanya terorganisir dan berjalan sesuai rencana. Meski ada plus minusnya, namun bila dilihat sisi positifnya, maka kamu nggak perlu khawatir karena si sulung pasti akan berjalan sesuai ‘manual book’ yang mungkin bisa disepakati di awal kalian memulai suatu hubungan. Berbeda dengan anak tengah dan bungsu yang lebih suka segalanya berjalan mengalir dan spontan.

7. Murah hati.

Sebagai anak sulung yang pastinya akan duluan masuk ke sebuah dunia, dia pasti akan jadi ‘kepala’ untuk adik-adiknya. Tentunya si sulung jadi anak yang murah hati dan suka berbagi. Misalnya nih, setelah si sulung lulus kuliah dan adiknya duduk di bangku kuliah, ia pasti akan berbagi nasihat-nasihat seputar dunia kuliah.Saat si sulung sudah berpenghasilan, ia yang mengingat keluarga pasti akan membelikan sesuatu untuk keluarganya. Kebiasaannya di
keluarga akan terbawa hingga ketika ia memulai keluarga yang baru dengan lo (kelak). Bukan anak tengah dan bungsu tidak murah hati, tapi mereka kan biasanya jadi penerima kemurahan hati si sulung. Hehehe.

8. Penuh Kasih Sayang.

Menjadi yang tertua, biasanya dia sudah dihujani dengan kasih sayang orang tua karena anak pertama adalah hadiah pertama yang diberikan oleh Tuhan untuk orang tua Akibatnya, si sulung pun memiliki stok kasih sayang yang berlebih. Lagi-lagi, walau ada sisi positif dan negatifnya, namun sisi positifnya adalah si sulung ini tahu
bagaimana menghujani orang lain dengan kasih sayang juga. Anak tengah dan anak bungsu biasanya lebih mengharapkan kasih sayang dibandingkan harus memberi kasih sayang untuk orang lain.

9. Memiliki Tanggung Jawab yang Tinggi.

Sebagai anak pertama dan paling tua, orang tua sering melimpahkan tanggung jawab yang besar untuk si sulung. Tidak heran bila si sulung menjadi orang yang bertanggung jawab. Nah yang begini nih enak, lo nggak perlu khawatir karena pasangan lo adalah sosok yang bertanggung jawab. Yang cowok jelas nggak akan kabur membawa putri orang lain dan si cewek nggak akan kabur merebut harta si cowok (itu lho, ala sinetron Indonesia). Anak tengah dan anak sulung bukannya nggak bertanggung jawab, tapi kadar tanggung jawab si sulung lebih tinggi daripada adik-adiknya.

10. Sebisa Mungkin Menyenangkan Orang Tua.

Gue pribadi percaya bahwa semua anak di dunia ini akan berusaha membahagiakan orang tuanya. Namun ada suatu keinginan yang lebih kuat dari si sulung untuk menyenangkan hati orang tuanya. Alhasil, ia jadi susah untuk berkata “tidak”, apalagi pada orang tuanya. Berbeda dengan anak tengah dan sulung yang lebih memilih untuk mengikuti apa kata hatinya, passion dan impiannya.

Itulah 10 keuntungan bila kamu berpacaran sama anak sulung. Menurut kamu, keuntungan apa lagi ya yang didapatkan orang-orang bila
mereka menjalin cinta dengan anak sulung?

Ini Alasan Mengapa Cewek Sering KePincut Dengan Cowok Yang Salah

Dalam kehidupan sehari-hari sering lo jumpai, kebanyakan wanita cantik memiliki kekasih seorang berandalan yang tidak bisa dibanggakan dari segi apapun. Pria yang model seperti itu
sering kali tidak tahu bagaimana cara
memperlakukan wanita dengan baik, dan justrus yang ada selalu menyakiti hati wanita.

Karena pria dengan tipe tersebut suka berganti-ganti pasangan, ketika mereka sudah bosan dengan wanita yang dia miliki, dia akan meninggalkannya begitu saja tanpa ada sebab yang pasti.

Pria yang salah, selalu memiliki berbagai jurus andalan untuk menaklukan wanita. Tidak hanya
itu saja, penampilannya yang terkesan orakan malah justru dianggap gaul dan menarik bagi para wanita. Pria dengan tipe seperti ini yang dianggap tidak membosankan bagi wanita.

Hal ini sangatlah berbeda dengan tipe pria baik-baik yang terkesan alim juga pendiam sehingga kurang menarik dimata wanita.

Selain alasan yang telah kami sebutkan diatas ternyata juga ada alasan yang lain yang membuat para wanita ini kepincut pria yang salah. Jika lo wanita yang memiliki kekasih seorang pria nakal, pasti lo memiliki salah
satu dari asalan dibawah ini. Berikut alasan wanita kepincut pria yang salah.

1. Penuh tantangan.

Jika lo bertanya kepada wanita yang memiliki kekasih seorang Bad boy, mungkin mereka akan menjawab karena butuh tantangan. Hal ini biasanya wanita yang dibesarkan dikeluarga yang penuh dengan aturan, sehingga wanita tersebut ingin merasakan sensasi hidup dengan
berpacaran sama cowok yang tidak suka dengan aturan dan kurang bertanggung jawa. Wanita ingin merasakan hidup yang penuh petualangan.

2. Memiliki ayah yang juga seorang bad boy.

Jika wanita memiliki ayah yang seorang
berandalan di masa mudanya tidak salah jika anak perempuannya juga tertarik dengan pria yang bertipe berandalan. Karena bagaimanapun
sosok ayah adalah idola bagi anaknya terutama anak perempuan

Mereka mungkin akan mecari
pasangan yang memiliki sifat yang sma dengan ayahnya. Namun keputusan ini sering kali diluar
kesadarannya.

3. Berharap pria tersebut akan

berubah.

Inilah kesalahan yang sering kali dialami banyak wanita.Kebanyakan wanita tertarik dengan pria yang salah atau pria yang terkesan orakan, karena mereka berfikir mereka bisa merubahnya menjadi pria yang lebih baik. Hey nona
janganlah berusaha untuk merubah seseorang. Jika mereka ingin berubah pastilah mereka akan berubah dengan sendirinya secara perlahan.Dengan berusaha untuk merubah dia menjadi pria yang baik justru akan membuat dia
membenci lo, dan suatu saat lo akan menyesalinya. Jika anda benar-benar cinta, maka terimalah dia apa adanya.

4. Tak ada pilihan lain.

Nahhh untuk alasan terakhir yaitu karena tidak ada pilihan yang lain. Mungkin ini sering dialami oleh wanita yang sudah bosan dengan statusnya yang selalu jomblo dan kesepian. Wanita yang merasa sudah putus asa dan trauma dengan hubungan yang dulu mereka jalani sehingga sering kali terjebak dalam hubungan pria yang salah. Jangan sampai lo berfikir tidak ada pilihan lain, lo harus tetap bisa menseleksi pria mana yang baik untuk anda, Jangan sampai lo menjalin hubungan dengan pria yang justru akan membuat hidup lo bermasalah.

Ini informasi tentang sebab kenapa wanita sering kepincut dengan pria yang salah. Sebagai wanita lo harus bisa memilih pria mana yang terbaik untuk lo. Jangan buang-buang waktu lo untuk menjalin hubungan dengan pria yang salah. Semoga informasi diatas bermanfaat ,terimakasih. 

Jodoh Itu Pemberian Dari Tuhan Atau Orang Tua?

Di era Siti Nurbaya dulu (=dibaca zaman dahulu), menemukan pasangan hidup nggak jauh-jauh dari pilihan orang tua, atau katakanlah dijodohin. Namun di zaman sekarang yang udah modern, masalah jodoh sepertinya udah urusan individu. Setiap orang berhak memilih pasangan hidupnya. Lo Setuju? *50:50 lah yang jawab setuju atau ngga.

Namun nggak sedikit orang tua yang masih melakukan perjodohan kepada anaknya. Biasanya itu terjadi karena faktor keturunan, umur, atau ekonomi. Rata-rata orang tua yang melakukan perjodohan kepada anaknya itu sebenarnya dengan tujuan yang pasti baik, hanya ingin anaknya memiliki pasangan sesuai pilihannya yang bisa menjamin hidup dan masa depan supaya nggak mengalami kesusahan, nggak lebih! Itulah yang terbaik.

Mereka beralasan soalnya orang tua beranggapan, mereka sudah menjalani kehidupan pernikahan cukup lama. Sehingga mereka berfikir mereka cukup kompeten untuk memilihkan pasangan bagi anaknya.
Kadang berdasarkan ego tersebut, mereka jadi menutup mata dan telinga dari pendapat anaknya yang nggak mau dijodohin. Kecuali kalo orang yang dijodohin ke kita itu pas sama yang lo mau, dan lo juga pas sama yang dia mau. Ini baru pilihan tepat deh, lo jadi nggak perlu repot jungkir balik keliling dunia, ga perlu surfing ke dunia maya, ga perlu semedi ke dunia laen,  buat nyari pasangan yang tepat.

Tapi gimana kalo enggak cocok? Ini udah pasti jadi keadaan yang sangat dilematis bagi lo sob. Ketika lo udah punya pilihan sendiri untuk pasangan hidup lo, tapi orang tua lo nggak setuju dan ga akan memberi restu!

Dampak dari hal itu bisa jadi masalah yang cukup memusingkan, galau dan risau bercampur jadi adonan bimbang. Bisa aja lo pilih untuk kawin lari sambil dorong gerobak soto, atau lo pasrah dijodohkan sama calon yang mirip salep panu cap nyonya meneer hanya demi membuat orang tua lo bahagia. Lagian, emangnya enak, tinggal satu atap, setiap hari, hingga selamanya lo buka mata bersama orang yang nggak ada rasa buat lo cinta?

Berlanjut dari kepasrahan dijodohin tersebut, lahir lagi masalah yang jauh lebih pelik campur kompleks jadinya Ribet. Yaitu seperti kasus rumah tangga yang berantakan karena salah satu dari dua pasangan di dalamnya tidak pernah bisa mencintai.

Misalnya, lonya yang dipilih orang tua sih fine-fine aja menjalani rumah tangga, tapi istri lo, hatinya masih nyangkut sama pacarnya yang ditinggal nikah sama lo. Istri lo menjalani hari-hari seperti neraka sob, penuh rasa bersalah dan rasa cinta yang belum terselesaikan. Pada akhirnya, hadirlah keinginan untuk selingkuh dengan mantannya. #fakta (Loh?)

Salah satu mimpi paling buruk adalah tinggal satu atap bersama orang yang tak pernah bisa dicintai

Bagian paling fatal adalah ketika pernikahan dari perjodohan itu dikaruniai anak. Nasib si anak ini akan sangat menyedihkan bila orang tuanya tidak saling mencintai.

Bagaimana pertumbuhan si anak dapat normal baik-baik saja seperti anak lainnya bila suasana rumah yang menjadi tempat awal ia berkembang selalu dirundung pertengkaran? Psikologis si anak akan rusak sejak kecil dan mengalami trauma, dan itu mempengaruhi persepsinya terhadap orang tua dan masa depannya!

Kemungkinan terburuk di atas adalah salah satu kasus yang pernah terjadi akibat perjodohan, tapi nggak semua perjodohan akan begitu kok. Banyak juga pasangan dari perjodohan yang hidup bahagia selamanya, dan gak perlu ngalamin ngabisin waktu buat pacaran lama-tapi-nggak-kunjung-dinikahin.

Percaya atau enggak, pepatah inggris mengatakan ‘witing tresno jalaran soko kulino’ itu bisa terjadi dan berlaku. Ya cinta juga bisa terlahir karena terbiasa bersama seiring berjalannya waktu.

Terlepas dari baik-buruknya perjodohan, kembali lagi jodoh itu di tangan Tuhan. Nggak menutup kemungkinan jodoh lo itu pemberiannya diwakili orang tua, lewat perjodohan. Juga mari kita semua pahami bahwa restu orang tua adalah restu Tuhan juga, Gaes. Nggak ada yang lebih membelenggu dari cinta yang gak dapet restu.

Jika orang tua lo nggak merestui hubungan lo dengan pilihan lo, barangkali sampai kapanpun kebersamaan kalian nggak akan merasakan bahagia yang hakiki.  Akan tetapi, kalo lo masih mempunyai waktu untuk memperjuangkan restu bersama pasangan pilihan lo tersebut, jelas harus lo perjuangkan semaksimal mungkin. Kompaklah berjuang bersama untuk meyakinkan orang tua lo sambil memantaskan diri agar meraih restu. Karena restu itu bukan diminta, tapi diraih.

Orang tua hanya ingin masa depan anaknya sejahtera oleh calon yang bisa menyejahterakannya.”

Apapun yang memang sudah takdirnya, yang bisa lo lakukan hanyalah ikhlas dan menerima, juga menikmatinya. Itulah yang terbaik. Kalo akhirnya nanti lo dijodohin, pertimbangkan segala sisinya. Kalo lo pengin dengan pilihan lo, tentu lo udah tau apa yang harus kamu lakuin sekarang!!.. Lakukan dan berikan yang terbaik. Tapi harap diingat juga, kadang restu Tuhan itu dititipkan melalui restu orang tua.

Jadi, menurut lo enakan dijodohin, atau pilih pasangan sendiri?

#Terkadang di situ saya merasa sedih memilihnya

*hehehehehehehehhehe

Jangan Menikahi Wanita Hanya Karena Alasan Ini

Pernikahan adalah tujuan terakhir dari sebuah hubungan antara pria dan wanita. Tapi, sebelum lo memasuki kehidupan baru dalam rumah tangga, apakah lo yakin dia adalah orang yang tepat untuk lo nikahi?

Sebelum kehidupan rumah tangga lo berlangsung dengan perkelahian, kesalahpahaman, dan berakhir dengan kegagalan, sebaiknya lo baca artikel ini lebih lanjut. Pastikan lo tidak menikahinya karena alasan-alasan berikut:

Dia Wanita yang Baik

Menjadi baik saja tidak cukup, begitupun dengan cantik. Pernikahan adalah menyatukan visi dan misi yang sama dalam satu atap. Untuk itu, pastikan dia memiliki selera, ketertarikan, dan tujuan hidup yang sama dengan lo. Jika tidak, sebaiknya lupakan saja.

Ingin Selalu Bersamanya

Kasmaran adalah hak setiap pasangan, tapi apakah lo harus seperti remaja yang selalu ingin larut di dalamnya? Rumah tangga bukanlah wahana permainan yang memberikan bunga-bunga pada kehidupan cinta lo. Lebih jauh lagi, pernikahan melibatkan tanggung jawab dan komitmen. Jika ingin selalu berada di dekatnya hanya menjadi alasan lo menikahinya, coba saja hitung berapa lama dia akan bertahan dengan obsesi lo ini.

Teman Sebaya Sudah Menikah

Menjadi pria lajang di antara pria yang sudah menikah memang merupakan intimidasi tersendiri. Tapi, jangan jadikan alasan ini untuk segera menikah. Pasalnya, faktor usia juga harus diimbangi oleh kesiapan mental dan finansial. Jika kedua faktor itu tidak Anda miliki, melajang lebih lama lebih baik dari pada menikah tanpa ‘amunisi’ apa-apa bro.

Menyenangkan Orang Tua

Tidak ada orang tua yang membenci anaknya karena belum menikah. Lo juga tidak perlu memaksakan diri menikah hanya untuk menyenangkan perasaan orang tua. Lo harus yakinkan diri lo terlebih dahulu apakah pernikahan lo nantinya menyenangkan atau tidak, sebelum memang pernikahan itu tujuannya menyenangkan mereka.

Sudah Mapan

Banyak pria termaksud lw, yang menganggap pernikahan merupakan langkah logis setelah mencapai kemapanan. Tak heran banyak yang terjebak dalam paradigma ‘jika sudah mempunyai mobil dan rumah sendiri, kenapa tidak menikah?’. Padahal kemapanan tidak melulu harus diukur dari materi, tetapi banyak hal-hal yang bersifat immaterial di dalamnya.

Terdesak

Jangan terburu-buru menanggapi desakan dari pasangan lo untuk menikahinya. Lo harus berpikir lebih jauh lagi sebelum mengiyakan. Menikah karena terdesak adalah gerbang utama menuju stres dan pada akhirnya dia merasa ‘cinta bertepuk sebelah tangan’. Pernikahan seharusnya diwujudkan dengan kenyamanan bukan tekanan.

Anda Terlanjur Dekat dengan Keluarganya

Lo menyukai masakan ibunya dan ayahnya merupakan teman bicara yang oke bagi lo bro. Tapi ini bukan berarti ini alasan lo untuk menjadikan mereka ‘keluarga’. Toh, pada saatnya nanti lo tidak akan tidur seranjang dengan mereka. Lo perlu gali lebih dalam lagi, apakah mereka nantinya benar-benar akan menjadi mertua yang baik atau tidak, sebelum memutuskan menikahi puterinya.

Dia Telah Mengandung Anak Anda

Ini terlalu fatal bro, mau tidak mau, kehamilan yang tidak diinginkan merupakan alasan utama terjadinya pernikahan. Ya, ini tidak hanya menyangkut tanggung jawab, tetapi juga reputasi lo sebagai pria. Lo tidak bisa disebut sebagai pria sejati jika mengabaikan si dia yang tengah berbadan dua. Jika tidak ingin hal ini terjadi pada lo, sebisa mungkin lo jauhi seks pra-nikah.

Semoga artikel ini dapat membantu lo dalam memikirkan alasan lain, yang bagus untuk menikahi pacar lo..
Memang semua tergantung pada diri lo, yang penting lo yakin kalau lo bisa hidup bersama dia selamanya.

Kesalahan Orangtua Mendidik Anak

 

Anak adalah harta yang tak ternilai harganya bagi setiap orangtua. Ada pepatah mengatakan, “Tidak ada harimau yang memakan anaknya sendiri”, atau “Tidak ada orangtua yang mencelakakan anaknya sendiri”.

Ya, dalam masa pertumbuhannya, anak membentuk kepribadian, kebiasaan, dan nilai-nilai kehidupan dari orangtuanya. Setiap orangtua pun pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, seringkali orangtua terjebak dalam sikap yang disadari bahwa itu adalah “salah”, tapi karena berbagai alasan mereka pun tetap melakukannya kepada si buah hati.

Untuk mengingatkan moms dan dads, simak pemaparan Jovita Maria Ferliani, M.Psi dari RS Royal Taruma, Jakarta Barat berikut ini, sebagaimana dilansir Mom & Kiddie.

– Berbohong

Terkadang orangtua menganggap kebohongan demi kebaikan merupakan hal yang sah-sah saja. Padahal apa pun alasannya, berbohong adalah perbuatan yang sangat tidak dianjurkan karena dapat berakibat negatif pada perkembangan anak. Misalnya, dads buru-buru hendak bekerja, tapi anak minta ikut atau menahan agar mengajaknya keliling komplek terlebih dulu.

Lalu Anda berkata, “Papa mau pergi ke depan, sebentar kok. Nanti kita main lagi ya, sayang. Hanya sebentaaarrr saja.” Tapi nyatanya, dads pulang tengah malam.

Dampak: Jika kita berbohong, baik itu ringan, kecil, atau berat tetap saja berdampak buruk bagi anak. Mereka tidak akan percaya lagi dengan kita sebagai orangtuanya. Mereka pun jadi tidak bisa membedakan pernyataan yang bisa dipercaya atau tidak, sehingga anak menganggap semua yang diucapkan orangtuanya adalah bohong dan mereka pun mulai tidak patuh dengan segala perkataan orangtuanya.

– Mengancam

Seringkali orangtua mengancam anak ketika melihat perilaku yang tidak sesuai dengan keinginan dan peraturan yang ditetapkan. Misal moms berteriak saat melihat si kakak sedang menganggu adiknya, “Kakak, jangan ganggu adek, nanti mama marah!” atau “Kalau kamu lari-larian terus, nanti mama tinggal sendirian di rumah!”

Dampak : Terbiasa mengancam anak, maka anak akan terbiasa juga menggunakan kalimat ancaman dalam pergaulannya. Bila orangtua terlalu sering mengucapkan kalimat ancaman, anak pun akan menganggap kalimat ancaman sebagai suatu kalimat biasa dan bukan lagi kalimat yang perlu mendapatkan penekanan. Akibatnya, anak tidak akan menanggapi atau merespons kalimat ancaman tersebut.

– Memberi label buruk

Berhati-hatilah terhadap ucapan yang keluar dari mulut moms atau dads. Jika sedang marah atau kesal dengan anak, acapkali muncul kata-kata yang menunjukkan “label” pada diri anak, seperti penakut, pembuat onar, pemalas, nakal, dan sebagainya. Jika tidak segera dihentikan, “label” yang Anda katakan pada anak akan benar-benar melekat pada dirinya dan perkataan tersebut dapat menyakiti perasaan anak karena ketajaman lisan orangtuanya.

Sering menghukum

Hukuman memang dapat memunculkan efek jera. Namun, memberi hukuman yang berlebihan bisa berdampak negatif. Jika Anda sering memarahi, membentak, mencela, atau mengomel, maka sikap itu pun akan menjadi kepribadian anak juga. Karena anak itu seperti “mesin fotocopy”.

-Meremehkan hal kecil

Meluangkan waktu dan mendengarkan anak berbicara harus diutamakan orangtua. Sebab, anak akan merasa bahwa mereka adalah bagian terpenting dari kedua orangtuanya. Tak jarang kita menganggap remeh saat anak bercerita atau berbicara mengenai suatu hal yang dialaminya. Kita lebih sibuk dengan gadget atau lainnya daripada menyisihkan waktu untuk mendengarkan anak berbicara. Saat anak mengeluh, moms berkata, “Iya, mama dengerin kok, terusin aja ceritanya!”

Dampak: Jika Anda terus melakukannya, justru mengajarkan si buah hati untuk bersikap apatis, tidak empati, dan meremehkan orang lain. Mereka akan menganggap acuh pada orang lain saat berbicara adalah hal yang benar. Maka jangan heran atau marah jika orangtua berbicara dan anak mengacuhkannya.

-Mengungkit kesalahan masa lalu

Seringkali orangtua mengungkit catatan kesalahan anak. Misal, “Tuh kan, papa bilang apa! Kamu nggak pernah mau dengerin sih, sekarang kejadian kan! Makanya dengerin kalau orangtua ngomong! Dasar kamu anak yang nggak bisa dibilangin!”

Dampak: Anda berharap dengan mengungkit kejadian masa lalu, anak akan belajar dari masalah. Tapi yang terjadi, malah sebaliknya. Anak akan merasa sakit hati dan berusaha mengulangi kesalahan-kesalahannya sebagai tindakan pembalasan dari sakit hatinya.