Pria Itu Selalu Salah!

Setelah lo baca judulnya pasti bertanya, apa seh?, Apa yang salah?, mang salah apa?, emang salah jadi pria?, banyak pertanyaan yang muncul di kepala lo setelah lo baca judul di atas.

Kali ini gue mau posting tentang pengalaman saat dulu gue nongkrong, apa barang kali di antara lo semua pernah melihat kejadian ini.

Ketika lo nongkrong ma temen lo, kemudian lo liat ada wanita sama pria lagi berantem, mula-mula pertengkaran mulut di kedua pihak, makin lama makin memanas, dan akhirnya tiba-tiba si wanita nampar pria , terus nendang kelaminnya pria , hingga ia jatuh tersungkur. Wanita tersebut melangkah pergi diiringi riuh tepuk tangan dari orang-orang yang menonton, sementara sang pria berguling di tanah kesakitan tanpa ada yang menolong. Yang jadi pertanyaan gue, saat lo melihat itu apa yang bakal lo ungkapkan?

Pasti ga jauh dari, “mampus”, “syukurin lo”, “rasain tuh”, “Cowok nggak guna”, “Cowok nggak punya harga diri”, “Itu cowok apa banci?”, “Cowok stupid!”, “Cowok bego!”, “Cowok itu feminim banget”, “menyedihkan!” Dan sebagainya.

Mungkin ada beberapa dari kita akan menilai “cewenya gila”, “ceweknya stres”, dan itu jarang banget yang akan menilai ke wanitanya yang telah ngelakuin itu ke prianya. Sedangkan pria sudah jatuh harga dirinya.

Nah coba deh bayangkan sekarang kejadiannya di balik, Bila wanita tersebut duduk memohon sambil nangis-nangis, sementara prianya menamparinya di muka umum. Apakah kira-kira komentarnya juga akan terbalik, mengomentari kebodohan dan harga diri wanitanya?

Walaupun ada yang komentar kebodohan wanita kenapa mau sama cowok kayak gitu, tapi itu jarang terjadi.

Apakah akan sedikit sekali komentar yang berkata, “Cowoknya stress”

?. Jawabannya pasti buuaaanyaakk yang mengumpat tuh cowok.

Bila pria selingkuh, maka dia “bajingan”. Bila wanita selingkuh, berarti prianya “tidak mampu menjaganya”. Bila sepasang kekasih bertengkar di restoran lalu wanita menamparnya pria, pria itu pasti melakukan kesalahan. Bila pria yang menampar wanitanya, pria itu berhak digebukin massa. Itulah yang terjadi dalam dunia romansa kita.

Bahwa pria selalu salah dan berhak menerima hukuman. Jangankan wanita, pria sendiri pun menyalahkan sesama pria

Apa lo ga berpikir kalau contoh yang di awal tadi setelah di selidiki(dektektif), ternyata yang salah wanita?, si pria mengajak wanitanya untuk pulang karena orang tua wanita sudah menghubunginya, tapi si  wanita bersikeras tak ingin pulang, masih mau nongkrong sama temannya, mula-mula pertengkaran mulut di kedua pihak, makin lama makin memanas, dan akhirnya tiba-tiba si wanita nampar pria , terus nendang kelaminnya pria , hingga ia jatuh tersungkur. Wanita tersebut melangkah pergi diiringi riuh tepuk tangan dari orang-orang yang menonton, sementara sang pria berguling di tanah kesakitan tanpa ada yang menolong.
Karena ketidak tahuan kitalah yang menjudge kalau pria tersebut melakukan yang salah sama wanitanya, kalaupun kita tau masalahnya seperti itu pasti lebih banyak yang menyalahkan sang pria.
Seperti “cewek kayak gitu lo ajak”, “ngapain lo bawa kalau ga boleh nongkrong?”, “salah sendiri lo ga pamitan sama orang tuanya”, “biarin aja seh, cewek lo masih mau nongkrong” dan laen-laen.

wanita menampar pria, tetep saja pria yang di salahin. Pria menampar wanita tetep aja digebukin si pria tersebut, jangankan menamparnya, membuat wanita menangis depan umum pun, bakalan banyak yang nyalahin si pria. Tau atau tidaknya masalah mereka.

Ini adalah bahan perenungan yang menarik untuk kita semua. Bila Anda adalah pria, tidak perduli bagaimana seorang wanita menyakiti hati Anda dengan keji,jangan pernah menamparnya. Karena Anda akan disalahkan, Anda dituntut untuk kalem, dewasa, tenang, dan pasrah menerima cibiran dan tawa dari orang-orang yang berkerumun di sekitar Anda,saat pacar Anda yang selingkuh menyiram Anda dengan minumannya.

Mungkin sudah hukum alam, fisik wanita lebih lemah dari pria, sehingga salah apapun wanita kita sebagai pria harus tenang menghadapinya.

Otak Manusia Baru Di Pakai 10 Persen, Bagaimana Kalau Sudah Di Pakai 100 Persen?

Gue mungkin bingung dan bertanya-tanya sama otak gue, apa bener otak gue cuma di pakai 10% dari 100%?

Berawal dari gue mendownload film di Ganool.com, dan menonton Film LIMITLESS, dan gue terperangah membayangkan andai saja gue bisa ngembangin otak gue sama seperti di film.
Dan gue kembali tertarik setelah kembali lagi download Film LUCY di ganool.com..

Mungkin setelah lo semua nonton film LUCY, udah nonton film Lucy belum? Film yang yang rilis Juli 2014 lalu dibintangi Morgan Freeman dan Scarlett Johansson, dan Film LIMITLESS film tahun 2011 yang di bintangi oleh, Robert De Niro dan Bradley Cooper.

Inti dari Film ini mengangkat Tema bahwa otak manusia itu hanya di pakai 10% dari 100%, plot film sama-sama memakai obat terlarang  untuk meningkatkan kapasitas otak dari 10% sampai 100%.

Mungkin ada yang belum nonton film tersebut, untuk lebih tepatnya belum nonton, akan penasaran dengan ceritanya.
Dan gue di sini ga jelas in terntang refrensi Film tersebut. Kalau ingin tau film LIMITLESS dan LUCY silahkan cari di kakek Google. :-p

Setelah gue kemaren-kemaren nonton LUCY gue kembali kepada pertanyaan di atas, apa benar otak gue cuma di pake 10%?
Rasa ingin tau gue muncul dan jadilah googling mencari kebenaran, dan maklum hal yang berbau sains gue ga bagitu ngerti, dan gue cuma mau tau akan FAKTA tersebut.

Akhirnya setelah surfing kesana kemari gue nemu postingan yang menurut gue bagus, dan menambah pemahaman tentang Kebenaran Otak Kita.

Kembali kepada Film LUCY menceritakan Scarlett berubah jadi super pinter, bisa belajar satu hal dengan super cepat, tau super banyak hal, super jago bela diri, sampe punya super power, kayak kemampuan telekinesis, menghentikan waktu, dsb.

Secara film, menurut gw pribadi nih, it’s just another action-science fiction movie. Lumayanlah buat entertainment ngisi waktu luang. Apalagi kalo lo suka mantengin si seksi Scarlett beraksi di film action 😀

Tapi, nih film bikin gw geregetan dan facepalm. Apalagi kalo lo ngefans sama Morgan Freeman plus tau sains juga. Lah emangnya kenapa?

Keseluruhan plot film ini berdasarkan pada premis bahwa kita baru make 10% dari total kapasitas otak kita. Dugaan gua sih cukup banyak dari yang baca tulisan ini juga masih percaya dengan premis ini. Beberapa diantara lo juga mungkin ada yang baru aja nonton Lucy, kemudian terbuai untuk berangan-angan kemampuan apa aja yang bisa lo dapetin kalo lo bisa make lebih dari 10% otak lo.

Lo tau ga sih kalo premis “rata-rata manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya” itu adalah salah satu miskonsepsi terbesar dalam Biologi, khususnya tentang otak. (FAKTA)

Sangat keliru, tapi sangat populer. Entah kenapa otak sering banget jadi kambing hitam yang dikelilingi dengan banyak mitos, pseudoscience, dan miskonsepsi. Btw lo juga bisa Googling  pembedahan zenius sebelumnya yang berkaitan tentang otak di artikel yang membahas tentang miskonsepsi otak kanan-kiri dan otak tengah . Tapi gimana ceritanya kalo “manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya”?

Selama bertahun-tahun, banyak dokter, neuroscientists, dan jurnalis sains udah mencoba menerangkan dengan sabar ke siapapun yang mau mendengarkan bahwa ga ada satu pun basis saintifik untuk mitos otak 10% ini. Tapi mitos ini tetap aja hidup dan populer. Kok bisa sesuatu yang keliru banget bisa tetap populer begitu? Ayok lah kita bahas aja.

 

ASAL MULA MITOS TENTANG OTAK 10%

Semua ini bermula dari misintepretasi temuan sains yang masih kurang lengkap seratus tahun lalu.

Pada awal abad ke-20, peneliti medis yang mempelajari otak binatang dan penderita stroke menemukan bahwa bagian otak yang berbeda mengontrol aktivitas yang berbeda pula. Misalnya bagian otak A ternyata berfungsi pada bagian tubuh tertentu, misalnya bibir, bagian otak B ternyata berfungsi pada bagian tubuh lain, misalnya jari kelingking tangan kiri, dsb. Metodenya adalah dengan mencoba memberikan kejutan listrik ke area otak tertentu untuk memetakan fungsi dari tiap bagian otak. Jadi mereka mau ngeliat nih, kalo gw sentrum yang sebelah sini, kira-kira ngaruh ke fungsi atau bagian tubuh yang mana ya. Oh misalnya, kalo gw kasih kejutan listrik ke saraf okulomotor di otak, kelopak mata gw bergerak.

Nah, dengan metode seperti itu, para saintis mencoba memetakan fungsi otak yang disetrum dengan efek rangsangan pada gerakan motorik (gerak) manusia. Hasilnya? ternyata hanya 10% bagian otak doang yang memberi respond ketika distimulasi dengan aliran listrik. Sedangkan 90% bagian otak yang lain, ga ada satu pun otot di tubuh yang bergerak atau berkedut sedikitSaintis pada saat itu melabeli 90% area tersebut sebagai silent cortex karena fungsinya BELUM diketahui.Inget, “belum diketahui” bukan berarti “tidak berfungsi sama sekali” yaah…

Sayangnya, orang-orang dari ranah non-sains pada saat itu mengira 90% area tersebut benar-benar dorman (ga aktif) permanen. Di sinilah miskonsepsi 10% otak itu dimulai. Mulai deh tuh premis ini bermunculan di buku-buku self help,motivasi, film (salah satunya film Lucy itu), sampe bermunculan juga program-program peningkat daya guna otak. Salah satu yang terkenal dan diduga menjadi buku pertama yang menggunakan premis ini adalah buku “How to Win Friends and Influence People” yang ditulis oleh Dale Carnegie pada tahun 1936. Buku ini jadi salah satu buku self-development yang best selling pula. Tapi yah emang bisa dimaklumi sih karena buku ini ditulis pada saat sains belum berkembang seperti ini, dan isi dari buku tersebut juga gak sepenuhnya membahas tentang konteks ini.

Selain itu, bahkan ada juga yang mengaitkan premis otak 10% ini dengan Albert Einstein., bahwa sebetulnya Einstein yang sejenius itu aja ternyata cuma menggunakan 10% dari otaknya. Ada juga yang bilang bahwa Einstein sendiri yang mengatakan hal itu. Entahlah gua juga ga tau juga kenapa ada klaim ngaco seperti itu. Mungkin karena Albert Einstein sering dipake sebagai simbol orang jenius, jadi sering dimanfaatkan juga nama besarnya. Akhirnya sih di tahun 2004, pencarian komprehensif terhadap arsip Einstein di Institut Teknologi California tidak menemukan bukti sama sekali kalo Einstein pernah melontarkan premis serupa.

 

SAINS TERKINI MENJAWAB MISKONSEPSI OTAK 10%

Ingat kah kalian pelajaran Biologi kelas 7 SMP atau kelas 10 SMA tentang Metode Ilmiah? Di sini kita belajar kalo sains terus berkembang dan harus selalu terbuka untuk difalsifikasi (dipatahkan) jika ada bukti dan data-data terbaru yang ditemukan atau dengan pemahaman baru yang lebih komprehensif. Jadi sains harusnya memiliki sifat auto-critic atau harus selalu bisa mengevaluasi kembali pemahamannya.

Nah, hal yang sama juga harusnya berlaku untuk setiap fenomena yang diklaim oleh saintis, termasuk penelitian tentang otak 100 tahun yang lalu. Peneliti otak jaman sekarang udah punya peralatan yang lebih canggih sehingga bisa mengambil kesimpulan yang jauh lebih tepat tentang pemetaan fungsi otak terhadap akvitias tubuh manusia. Untuk mengamati fungsi otak, kita udah punya fMRI, CT Scan, dan PET Scan, EEG, dsb yang hasilnya bisa diolah secara kuantitatif maupun grafis dengan sangat presisi di komputer. Pastinya beda banget sama jaman 100 tahun yang lalu, peralatan saintis kala itu cuma berupa jepit elektroda yang cuma bisa kasih kejutan listrik doang.

Dengan alat canggih yang kita punya sekarang, kita bisa mengobservasi aktivitas virtual otak (ga cuma aktivitas fisiknya aja), misalnya gelombang otak atau hormon-hormon yang bereaksi di otak. Keempat alat di atas bisa ngebantu para peneliti dan pekerja medis untuk mengetahui secara jauuuh lebih akurat bagian otak mana yang mengontrol kegiatan tertentu. Nah, dengan alat-alat canggih ini juga ditemukan bahwa ga ada tuh bagian otak yang dorman. 90% silent cortex itu juga punya fungsi, yaitu pusat kontrol kognitif manusia, seperti kemampuan berpikir dan menggunakan bahasa.

Ya pantas aja kalo 90% diberi sengatan listrik ga bikin satu pun otot di tubuh kita berkedut, toh fungsinya bukan buat motorik (gerak), tapi lebih ke fungsi yang tidak bisa diobservasi dengan kasat mata, seperti fungsi untuk bisa berpikir secara logis, untuk memahami bahasa verbal, atau untuk menangkap emosi orang lain. Yang begituan ya mana mungkin ke-detect sama alat eksperimen jaman dulu, yang cuma bisa melihat hasil stimulasi yang bersifat motorik (gerak) doang.

Memang benar kalo bagian otak yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda pula, dan ga semuanya bekerja dalam waktu yang bersamaan. Namun, hasil scan otak selama periode 24 jam, menunjukkan bahwa seluruh bagian otak kita pasti kepake dan terus aktif dalam satu hari. Pas lo lagi bengong dan nothing to do juga, otak lo masih bekerja. Bahkan saat lo tidur, bagian seperti frontal cortex, yang mengontrol kemampuan berpikir, self-awareness, dan somatosensorymasih aktif. Makanya kalo lo tidur, lo bisa kebangun kalo dipanggil Mama buat disuruh beli belanjaan di Minimarket :p

Lagipula, kalo benar manusia selama ini bisa fine-fine aja dengan menggunakan 10% otaknya, berarti 90% nya dorman sia-sia gitu? Menggunakan perspektif evolusi, ini ga efisien banget. Otak itu konsumtif banget dalam penggunaan energi tubuh. Walaupun berat otak cuma 5% dibandingkan total berat tubuh kita, organ ini mengkonsumsi hingga 20% suplai oksigen dan glukosa dalam tubuh. Ngapain kita mempertahankan 90% bagian otak lain selama ribuan tahun evolusi kalo emang tanpa itu kita masih bisa beraktivitas dengan baik? Kenapa ga “dihilangin” aja?

Kenyataannya, kalo manusia cuma menggunakan 10% otaknya, kita akan rentan banget dengan kelainan otak. Ga ada satu pun area di otak yang kalo di-nonaktif-kan ga akan menimbulkan efek yang fatal. 90% dari otak ga aktif itu udah sama kali kayak orang koma. Kenyataan lo lagi baca tulisan gw sekarang adalah bukti kalo otak lo masih bisa bekerja 100% kok. Kalo ada 1% aja otak lo ada yang gak berfungsi, mungkin lo udah lumpuh atau sekarat, hehe..

 

KENAPA MITOS OTAK 10% MASIH POPULER SAMPAI SEKARANG?

Meskipun kini pengetahuan sains makin advanced, udah ada data-data dan pemaparan logika yang mematahkan mitos ini, tapi kenapa ya kok mitos ini masih populer aja?

Premis “manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya” seakan-akan memberikan pengharapan bahwa kita bisa lebih dari kita sekarang ini. Harapan kalo ada suatu jalan untuk mengembangkan potensi kita lebih jauh dari yang sekarang.

People love fairy tale. Lo mungkin masih sering tergoda untuk berangan-angan, “Mungkin ga ya laba-laba di film Spiderman itu nyata?”, “Beneran ga sih kalo gw kena sinar radioaktif, gw bisa jadi mutan kayak di X-Men?”, atau “Seandainya gw bisa maksimalin otak gw 100%, gw bisa masuk Harvard kali ya

Premis “manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya” memberi kita harapan kalo there’s so much more to unlock. Coba lo bayangkan kalo ada motivator atausales program otak yang menawarkan ke lo, “Dengan mengikuti training aktivasi otak 90% kami, hanya dengan biaya 3 juta rupiah, dalam waktu 2 bulan, kamu akan dapat nilai rapor 100 semua, lulus SBMPTN, menguasai 5 bahasa, dan sebagainya dan sebagainya..

Kesannya mungkin konyol buat lo yang udah tau tentang miskonsepsi ini. Tapi bagi yang belum tau atau males nyari tau, ya bisa jadi itu tawaran yang sangat menggoda. Entah kenapa, banyak orang yang selalu tergoda untuk mendongkrak kemampuan kita dengan jalan pintas, apalagi kalau udah dibumbui bau sains, wah makin yakin aja tuh. Padahal yang bersangkutan sebetulnya belum bisa ngebedain yang sains beneran sama yang cuma pseudosains. (pseudosains: sok-sok pake istilah sains padahal ngaco secara sains)

Hal yang membuat miris adalah, banyak pseudosains dijual untuk mendatangkan profit. Sebetulnya hal ini gak perlu dikhawatirkan kalo aja masyarakat mau terus belajar, berpikir kritis, dan selalu mengkaji pengetahuan yang mereka dapetin. Tapi yah kemalasan masyarakat inilah mungkin yang membuat kenapa mitos ini tetap hidup dan populer. Bahkan terus direpetisi hingga menjadi bagian dari urban legend masyarakat kita. Jadinya ketika satu premis bisa mendatangkan duit, ya orang males lah menerima temuan baru atau mengubahbelief-nya kalo malah menutup sumber duit mereka :p

Tapi tentu ada cara kan buat mengembangkan potensi kita? Ya tentu ada lah. Tapi mau potensi lo seperti sekarang vs. potensi lo nanti yang udah lebih berkembang , sama aja lo tetap menggunakan otak lo secara 100%. Potensi yang dimiliki Bill Gates dan potensi yang dimiliki gw sama-sama berdasar dari penggunaan otak secara 100%.

Trus gimana cara mengembangkan potensi kita? Ya kembali lagi seperti yang udah sering Zenius koar-koarin. Potensi dan achievement itu adalah resultan dari kerja keras dan semangat lo dalam meraih impian lo. Ga ada yang namanya shortcut. Mau lulus SBMPTN? Ya belajar kontinu dan efektif. Mau jago menggambar atau bela diri? Ya terus latihan dan evaluasi.

Mungkin ada sebagaian orang menganggap ini pembahasan basi, tapi gue cuma mau ngasih wawasan tambahan, karena dari rasa penasaran gue, dan gda salahnya kan buat gue sebarkan pengetahuan ini..

Jadi sekarang kalo ntar masih ada teman lo yang masih percaya dengan mitos otak 10% ini, lo bisa jelasin kalo itu cuma miskonsepsi. Fakta bahwa mitos ini masih populer justru bukti bahwa manusia sepertinya baru mengerti 10% tentang otak kita.

Stay Awesome, Stay Critical!

REFERENSI
http://science.howstuffworks.com/life/inside-the-mind/human-brain/ten-percent-of-brain.htm
http://psychology.about.com/od/biopsychology/a/10-percent-of-brain-myth.htm
https://www.zenius.net/blog/4984/otak-10-persen-manusia-mitos-miskonsepsi-debunk
http://en.wikipedia.org/wiki/Ten_percent_of_brain_myth#cite_note-5
http://www.princetonbrainandspine.com/subject.php?pn=brain-anatomy-066

Kenapa Ya Patah Hati Sakit?

Ini pertanyaan sejuta umat nih. Baik yang galau maupun yang belum. Buat kamu yang baru putus atau baru keluar dari lubang kelam kegalauan pasti pertanyaan ini terlintas selalu “Hadeeuh, kenapa gini amat sih??” atau kamu yang lagi menghadapi teman dan saudara yang lagi berjuang di ruang hampa tanpa cinta dan kasih sayang. Kenapa sih?? Ada apaan sih emangnya,sampe segitu amat rasanya kalau ditinggal kekasih dan pujaan hati?? Well,ternyata gini nih soalnya..

Semua Terpusat Di Otak Kita.

Gpp ya bahas sesuatu yang ilmiah dikit? Biar kamu agak pinteran dikit gitu, biar kalau ada yang tanya ‘kok lw ga move on-move on sih?’ kamu bisa jawab ‘iya nih,soalnya Anterior Cingulate Cortex gue masih terus-terusan ngirim sinyal sakit, jadi gue belum bisa move on’…:DD

Jadi ya si ACC ini posisinya di bagian otak depan dan yang bertanggung jawab memberikan rasa sakit terhadap tubuh kamu setiap kali kamu merasa terkucilkan dalam lingkungan sosial. ACC ini juga merupakan bagian otak yang aktif kalo fisik kamu merasakan sakit, seperti dicubit. Sesimpel kalah main game aja bisa membuat si ACC ini bereaksi, apalagi ditinggal kekasih hati ya kan.

Secara fisiologis hal ini menunjukan betapa kita manusia sangat membutuhkan hubungan sosial. Nah, mengingat ACC ini juga merupakan bagian otak yang aktif kalo fisik kamu merasakan sakit, jadi rasa sakit yang ditimbulkan sama patah hati ini juga beneran.Tuh yg oren oren itu si ACC. Salahin dia yang bikin hati kamu serasa diperes peres tiap kali kamu sakit hati.

Banyaknya Tahapan Yang Mesti Dilewatin.

Nah, kalo si ACC kan reaksi fisiknya, berikutnya reaksi psikisnya. Namanya Proses Grieving. Isinya antara lain ketidakstabilan emosional (emotional rollercoaster), kognitif (cara berpikir / perubahan cara pandang) dan perilaku. Tahapan yang harus kamu lewatin supaya bisa melangkah maju dari kelamnya masa lalu bersama si mantan adalah :

1. Denial/Penyangkalan

Ini adalah tahap pertama, dimana kamu masih menyangkal kejadian yang baru kamu alami. Rasanya masih gak percaya gitu, belum bisa menerima kenyataan. Jadi masih suka cubit-cubit diri sendiri gitu….*halaaah lebay

Contoh kasus :

– Kamu masih sms/bbm selamat pagi, siang, sore, malam, udah makan belum, hati-hati di jalan, hujan nih bawa jaket ga? Dan gak pernah dibalas. Dibaca sama dia, tapi gak dibalas.
– Kamu masih merasa status status fb dan twitter yang kangen dan pujian pujian no mention itu ditujukan kepada kamu. Padahal sih buat tukang nasi goreng.

2. Anger/Kemarahan.

Ini adalah ketika kamu ngerasa diinjak-injak dan tiba-tiba kamu jadi kesel dan benci banget sama situasi yang menimpa kamu. Kalo ini hubungannya sama mantan, ya benci banget sama si mantan deh.

Contoh kasus :

Dimana tiba-tiba kamu mulai menyusun banyak ide balas dendam di otak kamu.

3. Bargaining/Penawaran.

Ini adalah tahap dimana kamu merasa balas dendam kamu gak ada gunanya, terus kamu mulai ganti strategi, yaitu dengan berusaha jadi lebih baik gitu. Lebih baik karena ada maunya gitu. Kurang lebih kayak DPR gitu lah.

Contoh kasus :

Merubah penampilan dan perilaku seperti yang diharapkan oleh si mantan dulu waktu masih pacaran. Dengan harapan dia bisa melihat perubahan kamu dan mau balikan lagi.

4. Depression.

Kamu mulai merasa terlalu sedih sampai udah gak bisa liat lagi apa gunanya terus beraktifitas seperti biasa. Cadangan rasa bahagia kamu karena ada orang yang sayang dan peduli sama kamu sudah habis. Kamu mulai menangis terus tidak terkendali dan lupa caranya tersenyum dan tertawa. Hiks.

Contoh kasus :

Ga doyan makan, susah tidur, ga konsen mengerjakan apa-apa, maunya sendirian aja di kamar, matiin lampu, tidur menghadap tembok. Tau-tau udah 3 hari berlalu. Kamu udah bau

5. Acceptance.

Pada tahap ini, kamu sudah gak tau lagi apa yang dapat dilakukan untuk membuat perasaan jadi lebih baik. Ibaratnya mau marah juga udah gak bisa dan gak tau ke siapa lagi, mau nawar nawar juga udah gak ngerti caranya gimana, jadi kamu terima aja keadaan kayak gini. Kamu akhirnya mulai menjalani kehidupan kamu seperti biasa.

Contoh kasus :

Kamu bangun pagi, lihat matahari dan tiba-tiba aja merasa semua bisa dijalanin. Sedap.

Yeah,,patah hati emang sesuatu yang serius. Bisa mengakibatkan kematian kalau ga tertangani dengan baik. Tahapan diatas bisa berbeda-beda bagi setiap orang, rentang waktunya juga. Ada yang bisa berlama-lama di tahap anger tapi langsung loncat ke acceptance. Atau ada juga yang ga pernah sampe ke tahap acceptance tapi terus aja muter balik ke denial. Hati emang penuh misteri. Tapi paling gak dengan ini, kamu jadi tau kan kenapa dinamakan patah hati? Karena rasa sakitnya nyata…….pedih

Ini Dia Yang Wanita Inginkan Ketika Ngambek

Wanita dan pria merupakan dua orang yang berbeda pandangan. Perselisihan antar keduanya pun sering kali terjadi.

Terkadang pria tidak mengerti dengan jalan pikiran pasangan. Sedangkan wanita menganggap kekasihnya tidak sensitif. Ego yang besar membuat wanita sulit mengungkapkan apa yang mereka inginkan, sehingga marah dan aksi ngambek bisa terus berjalan.

Nah, untuk kaum pria daripada bingung bagaimana cara mengambil hati si dia ketika marah, ini dia beberapa hal yang diinginkan wanita ketika sedang ngambek, seperti dilansir Future Scope.

1. Dimengerti

Jika wanita marah, pasti karena suatu sebab. Tidak banyak wanita yang bisa mengungkapkan isi hatinya ketika ia sedang marah, wanita hanya ingin dimengerti. Untuk pria, cari tahu sendiri apa yang menyebabkan wanita marah dengan tidak terus mendesak wanita untuk mengatakannya.

2. Mengaku Salah

Wanita akan merasa lebih lega ketika pria mau mengakui kesalahannya. Sikap gentlemen pria tersebut akan dihargai oleh wanita.

3. Minta Maaf

Satu lagi kata-kata sakti yang diinginkan wanita dari pria adalah kata-kata sakti permintaan maaf dari pria. Tidak hanya mengaku bahwasalah, tapi juga meminta maaf atas perbuatan yang telah dilakukan kepada wanita. Sekecil apapun kesalahan itu, permintaan maaf dari seorang pria akan sangat bermakna.

4. Tidak Didiamkan

Banyak pria ketika wanita sedang ngambek, pria malah mendiamkannya. Bukannya memberikan solusi, sikap pria tersebut malah membuat wanita semakin kesal. Meski sedang marahan, wanita tidak suka didiamkan. Di hati kecil wanita, mereka tetap suka jika pria tetap menghubungi dan mencarinya.

5. Memberi Surprise

Memberikan surprise merupakan salah satu bentuk tanda penyesalan dan permintaan maaf pria. Ketika marah, tentu wanita mengharapkan sesuatu yang manis diberikan oleh pria untuknya. Seperti membawakan cake yang bertuliskan ‘forgive me’ atau memberikannya satu buket mawar.

Begitulah yang wanita inginkan ketika ia ngambek. Seperti hal di atas, kita sebagai pria tak akan mengerti pasangan kita kenapa ketika lagi ngambek, cobalah cara-cara di atas..

Selamat berjuang..

Jangan Menikahi Wanita Hanya Karena Alasan Ini

Pernikahan adalah tujuan terakhir dari sebuah hubungan antara pria dan wanita. Tapi, sebelum lo memasuki kehidupan baru dalam rumah tangga, apakah lo yakin dia adalah orang yang tepat untuk lo nikahi?

Sebelum kehidupan rumah tangga lo berlangsung dengan perkelahian, kesalahpahaman, dan berakhir dengan kegagalan, sebaiknya lo baca artikel ini lebih lanjut. Pastikan lo tidak menikahinya karena alasan-alasan berikut:

Dia Wanita yang Baik

Menjadi baik saja tidak cukup, begitupun dengan cantik. Pernikahan adalah menyatukan visi dan misi yang sama dalam satu atap. Untuk itu, pastikan dia memiliki selera, ketertarikan, dan tujuan hidup yang sama dengan lo. Jika tidak, sebaiknya lupakan saja.

Ingin Selalu Bersamanya

Kasmaran adalah hak setiap pasangan, tapi apakah lo harus seperti remaja yang selalu ingin larut di dalamnya? Rumah tangga bukanlah wahana permainan yang memberikan bunga-bunga pada kehidupan cinta lo. Lebih jauh lagi, pernikahan melibatkan tanggung jawab dan komitmen. Jika ingin selalu berada di dekatnya hanya menjadi alasan lo menikahinya, coba saja hitung berapa lama dia akan bertahan dengan obsesi lo ini.

Teman Sebaya Sudah Menikah

Menjadi pria lajang di antara pria yang sudah menikah memang merupakan intimidasi tersendiri. Tapi, jangan jadikan alasan ini untuk segera menikah. Pasalnya, faktor usia juga harus diimbangi oleh kesiapan mental dan finansial. Jika kedua faktor itu tidak Anda miliki, melajang lebih lama lebih baik dari pada menikah tanpa ‘amunisi’ apa-apa bro.

Menyenangkan Orang Tua

Tidak ada orang tua yang membenci anaknya karena belum menikah. Lo juga tidak perlu memaksakan diri menikah hanya untuk menyenangkan perasaan orang tua. Lo harus yakinkan diri lo terlebih dahulu apakah pernikahan lo nantinya menyenangkan atau tidak, sebelum memang pernikahan itu tujuannya menyenangkan mereka.

Sudah Mapan

Banyak pria termaksud lw, yang menganggap pernikahan merupakan langkah logis setelah mencapai kemapanan. Tak heran banyak yang terjebak dalam paradigma ‘jika sudah mempunyai mobil dan rumah sendiri, kenapa tidak menikah?’. Padahal kemapanan tidak melulu harus diukur dari materi, tetapi banyak hal-hal yang bersifat immaterial di dalamnya.

Terdesak

Jangan terburu-buru menanggapi desakan dari pasangan lo untuk menikahinya. Lo harus berpikir lebih jauh lagi sebelum mengiyakan. Menikah karena terdesak adalah gerbang utama menuju stres dan pada akhirnya dia merasa ‘cinta bertepuk sebelah tangan’. Pernikahan seharusnya diwujudkan dengan kenyamanan bukan tekanan.

Anda Terlanjur Dekat dengan Keluarganya

Lo menyukai masakan ibunya dan ayahnya merupakan teman bicara yang oke bagi lo bro. Tapi ini bukan berarti ini alasan lo untuk menjadikan mereka ‘keluarga’. Toh, pada saatnya nanti lo tidak akan tidur seranjang dengan mereka. Lo perlu gali lebih dalam lagi, apakah mereka nantinya benar-benar akan menjadi mertua yang baik atau tidak, sebelum memutuskan menikahi puterinya.

Dia Telah Mengandung Anak Anda

Ini terlalu fatal bro, mau tidak mau, kehamilan yang tidak diinginkan merupakan alasan utama terjadinya pernikahan. Ya, ini tidak hanya menyangkut tanggung jawab, tetapi juga reputasi lo sebagai pria. Lo tidak bisa disebut sebagai pria sejati jika mengabaikan si dia yang tengah berbadan dua. Jika tidak ingin hal ini terjadi pada lo, sebisa mungkin lo jauhi seks pra-nikah.

Semoga artikel ini dapat membantu lo dalam memikirkan alasan lain, yang bagus untuk menikahi pacar lo..
Memang semua tergantung pada diri lo, yang penting lo yakin kalau lo bisa hidup bersama dia selamanya.